
Radang telinga pada kucing tidak boleh dianggap sepele. Kondisi ini bisa membuat anabul merasa tidak nyaman, lemas, sering menggaruk telinga, atau keluar cairan dari telinga.
Hal ini juga dialami oleh Hinata, seekor kucing ras British Short Hair berusia 4 tahun. Pada pukul 10.00, pemiliknya yang bernama Mega membawa Hinata ke Klinik Hewan Banjar karena kondisinya terlihat lemas. Selain itu, terdapat cairan pada telinga kanan dan kiri Hinata.
Setelah diperiksa oleh dokter hewan, Hinata diketahui mengalami radang telinga. Namun, suhu tubuhnya masih dalam batas normal.
Kondisi Awal Hinata Saat Datang ke Klinik Hewan Banjar
Mega menyampaikan bahwa Hinata tampak lemas dan telinganya mengeluarkan cairan. Cairan tersebut terlihat pada kedua telinga, yaitu telinga kanan dan kiri.
Keluhan seperti ini perlu segera diperiksa. Sebab, radang telinga pada kucing bisa disebabkan oleh banyak hal. Beberapa penyebab yang umum antara lain ear mite, infeksi bakteri, jamur, alergi, atau benda asing yang masuk ke telinga. Otitis eksterna pada kucing juga dapat dipicu oleh parasit, benda asing, dan alergi, lalu diperparah oleh bakteri atau jamur.
Pada pemeriksaan awal, dokter menemukan bahwa Hinata mengalami radang telinga. Meski begitu, temperaturnya masih normal. Ini menjadi informasi penting untuk menilai kondisi umum tubuh Hinata.
Hinata Belum Pernah Divaksin
Saat konsultasi, Mega juga menyampaikan bahwa Hinata belum pernah divaksin. Kondisi ini menjadi perhatian dokter hewan.
Vaksinasi sangat penting untuk membantu melindungi kucing dari berbagai penyakit menular. Karena Hinata belum pernah divaksin dan sudah berusia 4 tahun, dokter menyarankan pemeriksaan lanjutan.
Dokter mewajibkan Hinata untuk melakukan cek darah hematologi dan kimia darah. Pemeriksaan ini dilakukan agar kondisi tubuh Hinata dapat dinilai lebih jelas sebelum menentukan langkah penanganan berikutnya.
Fungsi Cek Darah Hematologi pada Kucing
Cek darah hematologi berfungsi untuk melihat gambaran kondisi darah kucing. Pemeriksaan ini dapat membantu dokter menilai adanya tanda infeksi, peradangan, anemia, atau masalah lain yang memengaruhi kondisi tubuh anabul.
Pada kasus Hinata, cek darah hematologi penting dilakukan karena ia terlihat lemas dan belum pernah divaksin. Dengan pemeriksaan ini, dokter bisa mendapatkan gambaran awal apakah ada kemungkinan infeksi virus, bakteri, atau parasit.
Selain itu, hasil hematologi juga membantu dokter menentukan apakah tubuh Hinata cukup stabil untuk menjalani terapi lanjutan.
Fungsi Kimia Darah pada Kucing
Selain hematologi, dokter juga menyarankan kimia darah. Pemeriksaan ini berfungsi untuk menilai kondisi organ dalam tubuh kucing.
Kimia darah dapat membantu melihat fungsi organ seperti hati dan ginjal. Pada Hinata, pemeriksaan ini menjadi penting karena usianya sudah 4 tahun. Di usia tersebut, kucing mulai memasuki fase dewasa matang dan perlu lebih rutin dipantau kesehatannya.
Dokter juga melihat bahwa perut Hinata tampak buncit. Karena itu, dokter ingin memastikan apakah ada gangguan organ, terutama pada ginjal atau jantung.
Perut Buncit pada Hinata Perlu Dipastikan Penyebabnya
Perut buncit pada kucing bisa disebabkan oleh beberapa hal. Penyebabnya bisa ringan, seperti kegemukan. Namun, pada kondisi tertentu, perut buncit juga bisa berkaitan dengan cairan di rongga perut atau gangguan organ.
Karena itu, dokter tidak langsung menyimpulkan bahwa Hinata hanya gemuk. Pemeriksaan harus dilakukan secara bertahap agar penyebabnya lebih jelas.
Setelah dilakukan cek darah hematologi dan kimia darah, hasil organ Hinata berada dalam rentang normal. Ini menjadi kabar baik bagi Mega sebagai pemilik Hinata.
Rapid Test FIP untuk Memastikan Kondisi Hinata
Meski hasil organ dalam batas normal, dokter tetap menyarankan pemeriksaan lanjutan berupa rapid test FIP. FIP adalah singkatan dari Feline Infectious Peritonitis, yaitu penyakit pada kucing yang berkaitan dengan strain tertentu dari feline coronavirus.
Pemeriksaan ini dilakukan untuk memastikan apakah perut Hinata yang buncit berkaitan dengan cairan akibat penyakit atau bukan. Setelah mendapat izin dari Mega, dokter melakukan rapid test FIP.
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa perut buncit Hinata bukan disebabkan oleh cairan. Ternyata, Hinata memang memiliki kondisi tubuh yang gemuk.
Penyebab Radang Telinga pada Kucing
Radang telinga pada kucing dapat terjadi karena beberapa penyebab. Berikut beberapa faktor yang perlu diperhatikan oleh pemilik anabul.
1. Ear Mite
Ear mite adalah sejenis tungau atau kutu kecil yang hidup di dalam telinga kucing. Kondisi ini sering menyebabkan telinga gatal, kotor, berbau, dan meradang. Cornell Feline Health Center menyebut ear mite sebagai salah satu penyebab umum otitis eksterna pada kucing.
2. Bakteri
Bakteri dapat berkembang pada area telinga yang kotor atau lembap. Jika tidak ditangani, infeksi bakteri bisa membuat telinga semakin merah, nyeri, berbau, dan mengeluarkan cairan.
3. Jamur
Jamur sangat suka tumbuh pada area yang lembap. Oleh karena itu, telinga kucing yang sering basah atau kurang bersih dapat berisiko mengalami infeksi jamur.
4. Benda Asing atau Air Masuk ke Telinga
Air yang masuk saat mandi juga bisa memicu masalah telinga. Jika telinga tidak dikeringkan dengan baik, area tersebut menjadi lembap dan mudah mengalami iritasi.
Selain air, benda asing juga bisa masuk ke telinga dan menyebabkan peradangan. Karena itu, pemeriksaan telinga sebaiknya dilakukan oleh dokter hewan.
5. Daya Tahan Tubuh Menurun
Kucing yang belum pernah divaksin atau sedang kurang sehat bisa memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan. Daya tahan tubuh yang menurun dapat membuat tubuh lebih mudah mengalami infeksi atau peradangan.
Tanda Radang Telinga pada Kucing yang Perlu Diwaspadai
Pemilik anabul sebaiknya segera membawa kucing ke dokter hewan jika melihat tanda berikut:
- Telinga kucing mengeluarkan cairan.
- Kucing sering menggaruk telinga.
- Telinga berbau tidak sedap.
- Kucing sering menggelengkan kepala.
- Telinga terlihat merah atau kotor.
- Kucing tampak lemas.
- Nafsu makan menurun.
- Kucing tampak tidak nyaman saat telinganya disentuh.
Semakin cepat diperiksa, semakin cepat dokter dapat menentukan penyebabnya. Dengan begitu, penanganan bisa lebih tepat.
Kenapa Radang Telinga Tidak Boleh Diobati Sembarangan?
Radang telinga pada kucing tidak boleh ditangani asal-asalan. Obat telinga harus disesuaikan dengan penyebabnya.
Jika penyebabnya ear mite, maka penanganannya berbeda dengan infeksi jamur atau bakteri. Jika ada luka, cairan, atau peradangan berat, dokter juga perlu memastikan kondisi saluran telinga terlebih dahulu.
Penggunaan obat yang tidak sesuai dapat membuat kondisi telinga semakin parah. Karena itu, pemeriksaan dokter hewan sangat disarankan.
Kesimpulan Case Hinata
Hinata datang ke Klinik Hewan Banjar dengan keluhan lemas dan keluar cairan dari telinga kanan serta kiri. Setelah diperiksa, Hinata mengalami radang telinga, tetapi suhu tubuhnya masih normal.
Karena Hinata belum pernah divaksin dan usianya sudah 4 tahun, dokter menyarankan cek darah hematologi dan kimia darah. Pemeriksaan ini penting untuk melihat kemungkinan infeksi serta menilai fungsi organ.
Hasil pemeriksaan organ Hinata berada dalam batas normal. Dokter kemudian melakukan rapid test FIP untuk memastikan penyebab perut buncitnya. Hasilnya, perut buncit Hinata bukan karena cairan, melainkan karena kondisi tubuhnya yang gemuk.
Case Hinata mengingatkan kita bahwa radang telinga pada kucing perlu diperiksa dengan benar. Selain telinga, dokter juga perlu menilai kondisi tubuh anabul secara menyeluruh.
Kapan Harus ke Dokter Hewan?
Segera bawa anabul ke dokter hewan jika telinganya berair, bau, kotor, merah, atau sering digaruk. Jangan menunggu sampai kucing lemas atau tidak mau makan.
Untuk pemeriksaan kucing, vaksinasi, cek darah, dan penanganan radang telinga, Anda bisa menghubungi:
Klinik Hewan Banjar
WhatsApp: +62 878-3255-1571
FAQ Radang Telinga pada Kucing
1. Apakah radang telinga pada kucing berbahaya?
Radang telinga bisa menjadi serius jika tidak ditangani. Infeksi dapat bertambah parah dan membuat kucing merasa nyeri atau tidak nyaman.
2. Apa penyebab telinga kucing keluar cairan?
Telinga kucing keluar cairan bisa disebabkan oleh ear mite, bakteri, jamur, iritasi, atau benda asing. Pemeriksaan dokter hewan diperlukan untuk memastikan penyebabnya.
3. Apakah telinga kucing boleh dibersihkan sendiri?
Boleh dibersihkan bagian luarnya secara hati-hati. Namun, jika ada cairan, bau, luka, atau kucing kesakitan, sebaiknya segera periksa ke dokter hewan.
4. Kenapa kucing yang belum vaksin perlu cek darah?
Cek darah membantu dokter menilai kondisi tubuh kucing. Pemeriksaan ini dapat membantu melihat tanda infeksi, peradangan, atau gangguan kesehatan lain.
5. Apakah perut buncit pada kucing selalu tanda penyakit?
Tidak selalu. Perut buncit bisa terjadi karena gemuk. Namun, pada beberapa kasus, perut buncit juga bisa berkaitan dengan cairan atau gangguan organ, sehingga perlu diperiksa.




